Nama Tara berasal dari akar kata bahasa Sanskerta “Tar” yang berarti menyeberangkan. Dengan kata lain, Dewi Tara membantu menyeberangkan semua makhluk keluar dari lautan penderitaan (samsara). Dalam bahasa Tibet, Dewi Tara disebut Jetsun Drolma yaitu “Ibu Sang Pembebas” atau Pagma Drolma yaitu “Sang Pembebas Nan Mulia”. Beliau melambangkan keberhasilan dan pencapaian. Dalam bahasa Mongolia, Dewi Tara disebut Dara Eke yang berarti Ibu Tara, yaitu Ibu dari semua Buddha dan Bodhisatwa. Dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Tarani Bosatsu dan dalam Buddhisme China sebagai Tuo Luo.

Asal Mula

Sebagaimana halnya kesinambungan mental (mental continuum) seorang Buddha yang tidak mungkin muncul sekonyong-konyong dari ketiadaan, namun pastilah muncul sebagai kelanjutan dari kesinambungan mental seorang makhluk yang sebelumnya belum tercerahkan, demikian juga halnya Arya Tara pasti sebelumnya merupakan manusia biasa pula seperti halnya diri kita sendiri, yang setelah berlatih di Jalan Bodhisatva selama waktu yang sangat lama, melalui kelahiran demi kelahiran, hingga akhirnya memperoleh Pencerahan Sempurna.

Dikisahkan bahwa pada banyak kalpa (ukuran jangka waktu yang sangat lama sekali) yang lampau yang tak terhitung jumlahnya terdapat seorang Arahat Tathagata Buddha Dundubhiswara yang membabarkan Dharmanya di dunia. Ketika itu lahirlah seorang putri raja yang diberi nama Jnanacandra (Rembulan Bijaksana, T: Yeshe Dawa). Putri ini di kemudian hari memiliki keyakinan yang sangat mendalam yang tak tertandingi kepada Sang Triratna dan para Bodhisatwa serta para Srawaka yang tak terhitung jumlahnya. Beliau memahami sifat samsara yang tidak memuaskan dan kemudian bertekad untuk membebaskan diri dari semua penderitaan.

Seraya memikirkan bahwa semua mahluk hidup juga sama seperti beliau dalam menginginkan kebahagiaan dan ingin bebas dari penderitaan, Putri Jnanacandra mengembangkan cinta kasih dan welas asih yang luas tanpa berat sebelah bagi setiap makhluk hidup. Beliau tidak terkesima dengan kehidupan istana yang mewah, justru beliau bersumpah untuk menunjukkan Jalan menuju pembebasan bagi jutaan mahluk hidup setiap harinya sebelum beliau menyantap sarapannya, bagi jutaan lebih banyak lagi mahluk hidup sebelum beliau menikmati makan siangnya dan bahkan bagi lebih banyak mahluk lagi sebelum beliau beristirahat di malam hari. Laksana mentari bersinar secara tak terputuskan, beliau membuat persembahan secara luas kepada para Buddha dan Bodhisatwa. Setiap hari beliau mempersiapkan persembahan yang tak ternilai, yang jauh lebih berharga dari semua benda berharga yang memenuhi sepuluh penjuru.

Kemudian beliau menyadari bahwa untuk mencapai Kebuddhaan yang pertama-tama diperlukan adalah membangkitkan batin pencerahan (S: Bodhicitta). Mengetahui hal tersebut para pemimpin spiritual istana berkata:

“Melihat demikian luasnya kebajikan serta kebijaksanaanmu maka kelak di masa yang akan datang tubuh perempuanmu ini akan berubah dilahirkan menjadi tubuh lelaki dan bila dengan kebajikanmu itu engkau membuat doa untuk kebahagiaan makhluk lain dan agar Dharma tetap bertahan maka hal itu pun akan terkabul.”

Akan tetapi Sang Putri menjawab:

“Banyak Buddha yang telah mewujudkan diri dalam tubuh lelaki. Namun tiada yang ingin menjalankan praktik demi kepentingan makhluk lain dengan tubuh perempuan. Oleh karena itulah aku bersumpah akan mencapai pencerahan sempurna dengan tubuh perempuan dan secara terus-menerus bekerja demi Dharma dan kepentingan makhluk lain hingga samsara kosong dengan kelahiran sebagai perempuan!”

Sang Putri melanjutkan:

“Aku bersumpah dengan tubuh perempuanku disertai segala kesempurnaan di sekelilingku dengan rupa yang cantik, suara nan merdu, tubuh berbau harum, dan sentuhan penuh kelembutan yang merupakan objek-objek kesenangan indria dan dengan menggunakan metode-metode dalam meditasi untuk mencapai keadaan samadhi yang diiringi cara-cara penuh kesabaran, aku akan mempraktikkan Dharma yang menuju pada kelahiran manusia dan membebaskan sebanyak tak terhingga makhluk dunia menuju tingkatan lebih tinggi setiap harinya. Aku tak akan menyantap makan malam sebelum aku mencapai kesempurnaan kesabaran!”

Sang Tathagata Dundubhiswara juga meramalkan bahwa sampai mencapai pencerahan yang tiada banding Sang Putri akan menjadi perempuan dengan nama Tara (Sang Pembebas). Ia akan menolong semua makhluk sejauh dan seluas angkasa. Ia disebut Sang Pembebas karena membebaskan penderitaan semua makhluk serta bagaikan seorang ibu yang memberikan perlindungan. Oleh karena itulah beliau disebut juga Arya Tara. Sebutan ‘Arya’ menandakan bahwa beliau telah merealisasikan hakikat dari kesunyataan dan sebutan ‘Tara’ menunjukkan aktivitas beliau yang membebaskan.

Arya Tara Muncul dari Genangan Air Mata Arya Avalokiteswara

Di kalpa kita saat ini, Arya Tara pertama kali mewujudkan diri-Nya sebagai emanasi dari Yang Maha Welas Asih, Arya Avalokiteswara. Dikatakan lebih lanjut bahwa Arya Tara adalah terlahir dari genangan air mata Arya Avalokiteswara.

Sebagai seorang Bodhisatwa, Arya Avalokiteswara (dalam bahasa Tibet Chenrezig, dalam bahasa Mandarin disebut Guan Yin Phu Sa) bekerja dengan sangat gigih dalam membebaskan semua mahluk dari alam-alam neraka. Ketika sedang beristirahat sejenak, saat terjaga beliau menemukan bahwa alam neraka kembali telah dipenuhi oleh makhluk-makhluk yang terlahir di sana karena kekuatan perbuatan jahat mereka. Untuk sesaat Beliau seperti kehilangan harapan dan mulai menangis penuh kesedihan karena keadaan makhluk-makhluk yang dipenuhi penderitaan ini. Dari genangan air mata-Nya, Arya Tara muncul dan membesarkan hati Beliau dalam Jalan Bodhisatwa dengan bersabda:

“Janganlah berkecil hati, Saya akan membantu Engkau membebaskan semua makhluk!”

Karena janji-Nya inilah, Arya Tara dipercaya selalu mendengarkan penderitaan semua makhluk hidup dan akan dengan sangat cepat dan tangkas untuk datang menolong.

Sesuai janji Beliau, Arya Tara selalu mengabulkan permohonan dari semua makhluk terlepas dari level pemahaman yang dimiliki oleh makhluk tersebut. Berkat welas asih Beliau yang sangat luar biasa, Arya Tara akan membebaskan makhluk dari penderitaan apapun juga. Arya Tara akan mengabulkan permohonan dari makhluk yang mengalami penderitaan material/duniawi, misalnya kemiskinan ataupun kelaparan. Sebaliknya, apabila ada makhluk yang memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan menyadari bahwa penderitaan adalah muncul dari keinginan-keinginan nafsu yang tiada henti dan oleh karena itu memohon kepada Arya Tara untuk menghentikan munculnya keinginan-keinginan duniawi dalam dirinya, maka Arya Tara juga akan mengabulkannya. Dengan demikian, dapat dikatakan juga bahwa Arya Tara akan mengabulkan semua permohonan, baik yang bersifat hanya membawa kebahagiaan duniawi yang sementara maupun yang membawa kebahagiaan murni dari kebebasan agung.

Ibu dari Semua Buddha

Lebih jauh lagi, Arya Tara juga merupakan manifestasi Samboghakaya (Tubuh Kenikmatan) dari esensi ke-Buddha-an, yaitu Kebijaksanaan dan Welas asih yang Sempurna. Sebagaimana halnya semua Buddha adalah lahir dari penyempurnaan Kebijaksanaan dan Welas Asih, laksana embrio ke-Buddha-an yang dipupuk di dalam rahim Kebijaksanaan dan Welas Asih yang Sempurna, maka Arya Tara juga sering disebut sebagai Ibu dari semua Buddha dari ketiga masa: yaitu dahulu, sekarang dan yang akan datang.

Perlu diingat bahwa kita sendiri juga pada akhirnya harus menjadi Buddha. Oleh karena itu, Arya Tara , Sang Ibu dari semua Buddha di masa lalu, sekarang dan yang akan datang, pada dasarnya juga adalah Ibu kita sendiri!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>