Banyak sekali kisah tentang penyelamatan yang dilakukan oleh Arya Tara baik kepada para praktisi agung maupun kepada orang biasa. Berikut hanya dikisahkan beberapa saja.

 

  1. Berkah Arya Tara dalam Kehidupan Yang Mulia Atisha
  2. Guru agung India, Atisha Dipamkara Srijnana (982-1055) adalah orang yang berjasa besar dalam memurnikan ajaran Buddhisme di Tibet yang pada abad ke-10 sudah sangat merosot. Beliau jugalah yang memulai suatu tradisi ajaran dan latihan spiritual Buddhis yang bertahap atau dalam bahasa Tibet adalah Lamrim (Jalan Bertahap Menuju Pencerahan), yang mana semua ajaran Buddha dipadukan dan disusun secara sistematis sehingga mudah bagi praktisi mana pun untuk mengetahui maksud ajaran Buddha dan mempraktikannya.

    Beliau juga yang pernah belajar selama 12 tahun di bumi Sriwijaya yaitu Palembang, Sumatera di bawah kaki Guru utamanya yang sangat Beliau kasihi yaitu Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, belajar dan memeditasikan cinta kasih (metta) dan welas kasih agung (maha karuna) dalam upaya membangkitkan batin pencerahan (bodhicitta).

    Guru Atisha juga mempunyai ikatan yang sangat dalam dengan Arya Tara dan ini erat kaitannya dengan kedatangan Beliau ke Tibet. Kisah berikut ini memberikan gambaran kepada kita mengenai betapa luasnya aktivitas Arya Tara.

    Perubahan gaib

    Begitu Yang Mulia Atisha lahir pada tahun 982M, Arya Tara sudah memberikan perlindungan kepada Beliau. Yang Mulia merupakan putra kedua dari Raja Bengal, yaitu Raja Chandragarbha (dalam bahasa Indonesia berarti “inti bulan”). Pada suatu malam ketika bayi Atisha tertidur, kedua orang tuanya mendengar suatu alunan lagu gaib dari luar. Sang permaisuri melihat bunga teratai turun dari langit, jatuh di tanah tepat di depan ayunan tidur sang bayi. Pada saat bersamaan wajah sang bayi seketika berubah menjadi wajah Arya Tara. Melalui kejadian ini semua orang menyimpulkan bahwa Arya Tara telah melakukan aktivitas beliau sebagai Istadewata (T: Yidam) sejak waktu yang sangat lama.

    Pilihan Hidup

    Ketika Yang Mulia Atisha beranjak remaja, ayahnya mengadakan beragam pesta semarak yang dihadiri oleh para putri raja yang cantik jelita beserta dayang-dayang mereka. Para putri raja sangat tertarik kepada Pangeran Atisha. Ketika itu Arya Tara menampakkan diri dalam wujud pangeran yang berkulit biru putih untuk mengingatkan sang pangeran dan berkata:

    “Jika seekor gajah menenggelamkan diri begitu dalam pada lumpur, Engkau, seorang pahlawan, yang menenggelamkan diri dalam lautan nafsu, akan menodai jubah yang Engkau kenakan selama 552 kehidupan silam, dimana Engkau selalu menjadi pelajar tanpa cela, Oh Biksu yang sempurna…. Seperti seekor angsa mencari danau yang dihiasi teratai, demikian Engkau seharusnya mencari tujuan mulia dalam kehidupan ini”

    Kemudian pada usia 29 tahun, Yang Mulia Atisha memasuki kehidupan biara, menjadi seorang biksu. Beliau mengabdikan hidupnya untuk belajar dan mempraktikkan Dharma.

    Bagaimana membayar sebuah kesalahan

    Suatu hari, Yang Mulia Atisha ikut menyetujui untuk mengeluarkan seorang biksu bernama Maitrepa dari Biara Vikramasila. Biksu Maitrepa memang berkelakuan sedikit aneh, tetapi ia mempunyai pencapaian spiritual yang luar biasa. Beberapa waktu kemudian, Yang Mulia Atisha bermimpi bertemu dengan Arya Tara yang berkata pada beliau:

    “Biksu yang Engkau usir adalah seorang Bodhisatwa. Sangat tidak sopan bersikap antipati terhadap seorang Bodhisatwa. Setiap orang yang tidak mengetahui bagaimana memperbaiki kesalahan ini akan terlahir dengan tubuh yang luar biasa besarnya seperti gunung Meru dan menjadi makanan bagi ribuan burung dan serangga.” Kemudian Yang Mulia Atisha bertanya penuh ketakutan, “Bagaimana saya dapat menghindari akibat yang luar biasa itu?” “Engkau harus pergi ke negeri di utara dan mengabdikan dirimu dengan mengajarkan Mahayana di sana,” jawab Arya Tara.

    Pesan Yogini

    Seiring berjalannya waktu beliau menjadi semakin terkenal. Ketika itu Raja Tibet, Jangchub O, mengirim utusan untuk mengundang Yang Mulia Atisha ke negaranya. Saat itu ajaran Buddhis di Tibet telah sedemikian merosot karena adanya perusakan ajaran Buddhisme pada masa pemerintahan Raja Langdarma.

    Yang Mulia melakukan peramalan untuk mempertimbangkan apakah perjalanan tersebut dapat membahayakannya, lalu Arya Tara dan para Buddha lainnya menasihati beliau melalui mimpi. Arya Tara menampakkan diri dalam mimpi Yang Mulia dan meminta beliau untuk pergi ke suatu biara. Di sana beliau akan bertemu dengan seorang Yogini yang akan menyampaikan pesan penting baginya. Keesokan harinya beliau pergi ke biara tersebut dan bertemu dengan Yogini sesuai dengan mimpinya itu. Setelah memberikan persembahan bunga, beliau berkata kepada Yogini tersebut:

    “Saya diundang pergi ke Tibet. Apakah misi saya akan berhasil?” “Perjalananmu ke Tibet akan sangat berhasil, engkau akan memberikan manfaat yang luar biasa besar baik bagi ajaran maupun bagi banyak mahluk. Akan tetapi perjalanan ke Tibet tersebut akan memperpendek umurmu sebanyak 20 tahun,” jawab sang yogini.

    Akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke Tibet dan selama di sana berulang kali beliau mendapat nasihat dari Arya Tara, seperti halnya ketika Arya Tara menampakkan diri dalam mimpi dan mengatakan bahwa Yang Mulia akan bertemu dengan seorang upasaka agung yang akan sangat banyak membantu dirinya yaitu Upasaka Dromtonpa. Di kemudian hari Upasaka Dromtonpa menjadi salah satu murid utama Yang Mulia Atisha.

    Pada usia 59 tahun, Yang Mulia Atisha meninggalkan dataran India menuju dataran tinggi Tibet yang diselimuti salju. Beliau mengabdikan hidupnya dengan mengajar di Tibet dan Parinirwana di sana.

     

  3. Kisah Arya Tara memberikan 16 macam perlindungan
  4. Berikut adalah kisah-kisah dimana Arya Tara karena welas asih-Nya memberikan pertolongan bahkan bagi mereka yang baru mengenal-Nya.

    1. Perlindungan dari ketakutan terhadap musuh
    2. Suatu hari, dikatakan bahwa seorang ksatria (kelompok kasta di India) yang sedang tertidur di sebuah taman di Odivisa, dikelilingi oleh pasukan musuh yang kuat dalam jumlah ribuan serta membawa senjata. Dia tidak memiliki perlindungan apapun, tetapi ia pernah mendengar bahwa ada dewi bernama Tara yang dapat melindungi dari 16 jenis ketakutan, dan lalu berpikir, “Aku akan berlindung pada Beliau saja”. Dia kemudian menyebut nama Tara. Pada saat dia menyebut namanya, seorang wanita agung muncul di angkasa di hadapannya. Kemudian dari bawah kakinya muncul angin kuat yang menghembuskan para prajurit ke sepuluh penjuru, mengembalikan mereka ke negeri mereka sendiri.

    3. Perlindungan dari ketakutan terhadap singa
    4. Seorang pengumpul kayu pergi ke hutan dan bertemu dengan singa betina yang kelaparan dan hendak menerkamnya. Singa itu kemudian membawa pria itu dengan taringnya dan kembali ke sarangnya. Ketakutan dan terancam, dia memohon dengan sangat pada Arya Tara dan kemudian muncullah wanita berpakaian daun yang kemudian membawa ia keluar dari mulut singa betina dan mengembalikannya ke pasar di kota.

    5. Perlindungan dari ketakutan terhadap gajah
    6. Seorang gadis desa berumur 12 tahun, pergi ke hutan rimba untuk mengumpulkan bunga–bunga, bertemu dengan gajah ganas yang disebut Khuni. Dia menangkap perempuan itu dengan belalainya dan mulai menyerangnya dengan gadingnya. Saat ia ingat pada Arya Tara dan memohon pertolongan dari lubuk hatinya, gajah itu menjadi terkendali. Gajah itu mendudukan gadis itu pada sebuah batu tinggi, memberikan penghormatan dengan belalainya, dan mengangkatnya kembali. Kemudian gajah ini melakukan hal yang sama di pasar di kota, kemudian di gedung anggota dewan, di kuil, dan di gerbang istana raja. Raja kemudian berpikir, “Gadis ini mempunyai kebajikan yang besar”, dan menjadikan gadis itu sebagai ratunya.

    7. Perlindungan dari ketakutan terhadap api
    8. Sebuah keluarga terlibat dalam suatu pertikaian. Pada suatu malam, musuh mereka membakar rumah mereka. Saat mereka mencoba keluar dari rumah dan terjebak, mereka menyebut, “Oh Tara, Oh Tara, aku menyesal!” Kemudian diatas rumah mereka muncul awan biru yang sangat indah dan hujan lebat turun hanya pada rumah tersebut, seukuran kayu penghubung bajak dengan kerbau (empat kubik atau kira–kira dua meter), dan memadamkan api tersebut.

    9. Perlindungan dari ketakutan terhadap ular beracun
    10. Seorang pelacur di kota bertemu dengan seorang pedagang, yang memberikannya sebuah kalung dengan 500 mutiara. Ia ingin pergi ke rumah pedagang tersebut dan dalam perjalanan ia mengambil dahan pohon sirisa (Acacia sirissa). Seekor ular beracun tiba–tiba muncul dari pohon melingkari dan menahannya. Meskipun ia hanya mengingat Arya Tara, ular beracun itu berubah menjadi untaian bunga. Dikatakan bahwa untaian itu bertahan pada tubuhnya hingga tujuh hari, kemudian ular itu menjadi putih, tidak beracun lagi dan pergi ke sungai.

    11. Perlindungan dari ketakuan terhadap para perampok
    12. Di sebuah daerah di Gujiratha (Gujarat) bernama Bharukaccha (Broach) ada seorang pedagang yang sangat kaya. Setelah mempersiapkan barang–barangnya di ribuan unta dan lima ratus banteng, dia pergi ke negeri Maru (Marwar). Di perjalanan, ia melewati hutan belantara tempat tinggal ribuan bandit. Seluruh tempat itu penuh dengan daging, darah dan tulang para pedagang yang pernah lewat dan dibunuh. Ratusan bahkan ribuan pedagang dipancang di tiang. Perampok–perampok ini seperti raksasa, bahkan mereka memakan daging manusia. Pedagang ini pun ketakutan, dan karena dia tidak mempunyai pelindung lain, dia berdoa pada Arya Tara. Tiba–tiba muncullah pasukan berkuda dalam jumlah tak terhitung, membawa senjata, yang merupakan manifestasi dari Arya Tara, dan menghalau para perampok di sepanjang jalan, tanpa membunuh satupun dari mereka. Perampok–perampok itu terusir, sementara pedagang itu bepergian dengan lancar dan kembali ke Bharukaccha.

    13. Menyelamatkan dari penjara
    14. Seorang pemimpin dari kelompok pencuri berhasil masuk ke tempat penyimpanan harta raja. Saat ia masuk ke dalam, ia menemukan sebuah pot berisi arak dan meminumnya. Ia kemudian menjadi sangat mabuk dan tertidur. Diketahui oleh prajurit raja, ia kemudian ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Ia diikat dengan tali dan menerima berbagai macam siksaan. Kemudian karena ia tidak mempunyai pelindung, dia berdoa kepada Arya Tara, dan seekor burung panca warna turun dari langit dan memutuskan ikatannya. Pintu penjara terbuka dengan sendirinya dan dia bebas pergi sebagaimana yang ia inginkan. Saat ia kembali ke negeri asalnya, muncul dalam mimpinya seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai perhiasan dan mengatakan, “Jika engkau mengingat kebaikan-Ku, kau dan pengikutmu hendaklah meninggalkan pekerjaan mencuri kalian!”. Kemudian pencuri itu dan 500 pengikutnya meninggalkan perbuatan mencuri dan melakukan banyak jasa kebajikan.

    15. Perlindungan dari ketakutan terhadap ombak laut
    16. Lima ratus pedagang berlayar menuju selatan dengan membawa tiga kapal besar. Setelah naik ke kapal yang terbesar, mereka berlayar menuju pulau permata (Ratna dwipa – Ceylon/Srilanka). Disana mereka mengisi sebuah kapal penuh dengan permata. Meninggalkan tempat itu, mereka tiba di pulau cendana putih, dan mengisi sebuah kapal lagi dengan bubuk cendana putih. Kemudian saat mereka dalam perjalanan pulang, raja dewa kemakmuran laut (Dhanapati) marah dan mengirimkan angin topan, yang membawa mereka pergi jauh. Setelah mereka mengarungi lautan dengan berbagai warna, mereka bertemu dengan ombak yang sangat besar. Meskipun para pedagang di kapal telah berdoa pada Brahma, Wisnu, Siwa, Soma, Surya, Kuvera, dan dewa–dewa lain, mereka tetap tidak tertolong. Tali penghubung kapal kemudian putus dan kapal pembawa permata dan bubuk cendana putih hilang, sementara kapal terbesar akan tenggelam, seorang Buddhis awam di kapal berpikir tentang Arya Tara dan melafalkan dengan suara lantang mantram sepuluh suku kata Beliau[2]. Mendadak, sebuah angin penolong berhembus dan kapal kembali lagi (tidak jadi tenggelam) dan dalam satu malam mencapai India. Kapal pembawa permata dan pembawa bubuk cendana juga dibawa kembali oleh angin tersebut dan mereka kembali bersama.

    17. Perlindungan dari ketakutan terhadap iblis pisaca
    18. Terdapat sebuah biara di timur yang dihuni dengan penuh keyakinan oleh para Srawaka Saindhava (para biksu dari Sekolah Sammatiya). Pada suatu ketika, setiap biksu yang berjalan–jalan pada sore hari di luar biara meninggal. Akibatnya, komunitas di biara itu menjadi merosot (kacau). Suatu sore, seorang pendatang baru keluar untuk berjalan–jalan dan muncullah iblis picasa yang hitam dan jelek, memperlihatkan taringnya dan membawa ia pada bagian kepalanya. Ia berpikir, “Kata orang, menurut kaum Mahayana, ada seorang dewi yang dapat melindungi dari delapan jenis ketakutan yang bernama Tara. Aku akan berlindung kepada-Nya”. Dia kemudian menyebut nama Tara. Seorang dewi berkulit gelap muncul disana dan mengayunkan pedang, mengancam iblis itu. Iblis itu memohon ampun dari pendatang baru tersebut dan memberikan pot besi yang berisi penuh permata yang ia ambil dari dalam tanah. Sejak saat itu, ancaman pada biara tersebut berhenti.

    19. Perlindungan dari ketakutan terhadap penyakit kusta
    20. Di negeri Kumaraksetra, seorang brahmana menderita kusta akibat karma buruknya. Penyakit itu menular dari satu ke yang lainnya, sehingga lima ratus brahmana lain terinfeksi oleh penyakit menular itu. Karena dikucilkan oleh keluarga dan dokter, mereka merusak aturan brahmana yang murni dan melakukan pelanggaran. Saat hidup sebagai pengemis, mereka melihat di jalan sebuah ukiran batu dengan gambar Arya Tara yang Mulia. Keyakinan tumbuh dalam hati mereka dan lima ratus brahmana tersebut berdoa kepada-Nya. Kemudian dari tangan Arya Tara muncul aliran arus obat–obatan, dan dengan hanya mandi dalam obat cairan obat itu, kusta mereka menjadi sembuh. Dikatakan tubuh mereka menjadi sangat indah, seperti para dewa.

    21. Perlindungan dari para pengikut Dewa Indra
    22. Dewa Indra adalah pelindung arah timur, dan pengikutnya adalah roh jahat yaitu para gandharawa. Mereka sangat kasar, dapat bergerak dengan cepat, dan membawa banyak halangan untuk Dharma. Berikut adalah sebuah kisah mengenai perlindungan terhadap mereka.

      Di sebuah hutan belukar di Mathura hidup lima ratus biksu Srawaka, praktisi meditasi dhyana, yang berjuang keras untuk mendapat kualitas–kualitas bajik. Pada suatu ketika, beberapa pengikut dari Dewa Indra datang, beberapa muncul dalam wujud brahmana, beberapa dalam bentuk wanita, beberapa dalam bentuk biksu, dan terkadang mereka muncul dalam aspek yaksa yang menakutkan dan muka mengerikan dari binatang buas seperti singa, gajah, atau sarabha. Para biksu tersebut diperdaya dengan ancaman dan terkadang dengan rayuan dan sejenisnya. Beberapa biksu kehilangan ingatan, beberapa menjadi gila, dan beberapa mengalami gangguan mental dan menghabiskan waktu mereka hanya dengan menari dan menyanyi.

      Seorang biksu mengetahui bahwa mereka mengalami halangan berupa gangguan dari roh halus. Teringat bahwa Arya Tara menyelamatkan dari berbagai jenis ketakutan, dia menduga bahwa Beliau akan menolongnya dalam masalah ini dan menulis “Hutan belukar ini adalah milik Arya Tara” dan memasangnya pada sebuah pohon. Hanya dengan cara ini, bahaya menjadi hilang dengan sendirinya, dan dengan memiliki keyakinan pada Arya Tara mereka memasuki kendaraan agung (Mahayana).

    23. Perlindungan dari ketakutan terhadap kemiskinan
    24. Dikatakan bahwa ada seorang brahmana yang sangat miskin, sangat menderita, dan karena ukiran batu bergambar Arya Tara yang ditemukan pada suatu jalan kecil, kisah mengenai dirinya muncul. Arya Tara menunjuk pada suatu lokasi dekat stupa dan mengatakan, “Gali disana dan kau akan menemukan harta!” Setelah menggali, dia menemukan banyak harta benda seperti guci emas berisi penuh mutiara dan guci perak berisi segala jenis permata. Penderitaan akibat kemiskinannya pun hilang hingga tujuh keturunan.

      Dikisahkan pula, ada seorang petani miskin yang membuat permohonan pada Arya Tara, melafalkan nama-Nya, kemudian seorang wanita berpakaian daun muncul dan memberikan instruksi kepadanya, “Pergi ke arah timur!” Ia kemudian pergi ke arah timur dan saat ia tidur di permukaan berpasir, ia terbangun oleh suara lonceng. Disana terdapat kuda berwarna hijau, dengan lonceng sebagai hiasan, sedang menggali pasir dengan tapaknya. Kemudian, dalam sekejap, kuda itu pergi ke tempat lain. Petani itu menggali dimana terdapat tanda dari tapak kaki kuda. Pertama, ia menemukan pintu perak, kemudian pintu emas, pintu kristal, pintu lapis lazuli, dan seterusnya yaitu pintu dengan tujuh benda berharga, yang dibuka secara berurutan. Di dalam negeri bawah tanah tersebut, dia menjadi pemimpin dari banyak naga dan asura dan menikmati banyak kesenangan materi. Suatu hari ia kembali ke dunia melalui sebuah lubang, ke negeri asalnya, dan ternyata sudah tiga generasi raja dilaluinya.

    25. Perlindungan dari ketakutan perpisahan dengan keluarga
    26. Dikisahkan ada seorang brahmana yang mempunyai banyak kerabat dan makmur. Suatu ketika, muncul wabah penyakit yang menimpa anak–anaknya, istrinya, saudara laki–lakinya, saudara ipar laki–lakinya, paman dari ibu dan kerabat lainnya hingga meninggal. Pikirannya diliputi oleh kesedihan, dan dia pergi ke Varanasi.

      Kemudian ia datang ke sebuah tempat dimana pengikut Buddhis awam sedang mengadakan perayaan besar untuk Arya Tara. Dari sana ia mendengar keagungan dari Arya Tara. Dengan menebarkan segenggam bunga, ia berdoa kepada-Nya. Saat ia kembali ke rumah, dia memenangkan putri dari Raja Jayacandra sebagai calon pengantinnya dan menjadi penguasa negeri. Dia kemudian membangun 108 kuil pemujaan Arya Tara dan menjadikan semua kuil tersebut sebagai tempat upacara besar Buddhis.

    27. Perlindungan dari ketakutan terhadap hukuman raja
    28. Di sebuah negeri yang dikenal dengan nama Ayodhya, ada seorang menteri dengan keberuntungan dan kemakmuran yang besar. Pada suatu ketika, karena alasan tertentu, raja dari negeri itu menjadi tidak senang padanya dan mencelanya. Dia membalas dengan memengaruhi beberapa orang kepercayaan raja dan pergi ke Tirahuti (Tirhut). Pada suatu kesempatan, dia menuju negeri Camparna (Champaran) dan Raja Ayodhya mengirim empat orang kuat untuk menangkapnya dan membawanya ke Ayodhya. Teringat pada Arya Tara, ia berdoa kepada-Nya, dan melalui kekuatan gaib-Nya, rantai menjadi emas saat kakinya dimasukkan, dan saat ia dimasukkan ke penjara, hujan mutiara turun disana. Saat mereka akan menggantungnya dengan tiang pancang, tiang pancang berubah menjadi pohon mangga dengan banyak bunga dan buah. Seperti yang lainnya, raja pun terkejut dan mengatakan, “Orang ini memiliki kebajikan yang besar. Bagaimana mungkin dia pantas dihukum mati?” Ia kemudian diberikan jabatan menjadi pemimpin menteri.

    29. Perlindungan dari ketakutan terhadap sambaran petir
    30. Seorang umat awam di negeri Bhangala (Bengal) sedang berjalan sambil mengamati pekerjaan ladang. Di jalan dia melewati kuil yaksa. Umat awam ini menginjaknya dan melewatinya begitu saja. Hal ini membuat yaksa marah. Pada malam hari, dua puluh satu kilatan petir menyambar dari angkasa mengarah pada umat awam tersebut saat ia beristirahat di rumahnya. Pada saat itu, ia berpikir tentang Arya Tara, dan hanya karena ini, api yang ditimbulkan dari petir–petir itu berubah menjadi bunga–bunga, sementara ia sendiri, anak–anaknya, istrinya dan harta bendanya selamat dari kerusakan. Petir-petir itu tetap berada di rumahnya dan dia membagikan semua itu kepada 500 vidya-mantradhara (praktisi Tantra). Dikatakan bahwa benda itu menjadi benda yang sangat bermanfaat untuk praktik.

    31. Perlindungan dari ketakutan terhadap kegagalan mencapai tujuan
    32. Seorang menteri bepergian ke negeri lain dengan membawa beberapa barang. Dia berharap mendapat sebidang tanah dari raja negeri tersebut. Dia memercayakan sebagian harta yang ia miliki pada seorang teman di negeri lain dan berlayar mengarungi lautan dengan kapal besar. Selama bertahun–tahun, dia mengelilingi pulau–pulau di lautan, tetapi tidak mendapat kekayaan apapun. Mendadak, kapal tersebut secara kebetulan terbawa angin dan tiba di pulau Malakha.

      Di pulau ini terdapat karang dan bubuk cendana putih yang boleh diambil siapapun, sehingga ia mengambil sebanyak–banyaknya, memenuhi kapal dan meninggalkan pulau itu.

      Sebelum perjalanannya berakhir, kapalnya rusak, berlubang akibat hantaman mulut monster laut dari keluarga ikan yang disebut Macchi. Sambil berpegangan pada papan kayu yang mengapung, ia terbawa oleh arus dan mencapai India. Saat ia mencari temannya kembali, ia mendapat kabar bahwa temannya juga bepergian dan meninggal karena diterkam oleh harimau. Dia pun menyadari bahwa kejadian ini sama sekali tidak menguntungkan, dia menderita karena kekhawatiran dan tidak bahagia.

      Pada saat itu, karena didorong oleh seorang teman, ia membangkitkan keyakinan pada Arya Tara dan membuat permohonan pada-Nya. Arya Tara memberitahukan pria itu dalam mimpi, “Pergilah ke hulu sungai Sindhu (Indus)! Tujuan yang engkau inginkan akan tercapai.” Dia melakukannya dan di Sungai Sindhu ia menemukan semua harta yang sebelumnya ia miliki di kapal dan hilang di lautan. Kemudian ia pergi ke tempat temannya yang sudah meninggal, menggali tanah disana dan menemukan hartanya yang pernah ia percayakan. Kemudian ia kembali ke negerinya sendiri. Ia mempersembahkan sepotong kayu cendana putih sebagai hadiah dan raja memberinya lima kota yang megah.

      Masih banyak lagi kisah pertolongan dari Arya Tara termasuk tentang penyelamatan delapan Guru Buddhis dari delapan macam bahaya. Kemudian banyak juga kisah gaib yang berkaitan dengan arca Beliau misalnya arca Arya Tara tanpa perhiasan yang berkaitan dengan Guru Agung Chandragomin, arca Arya Tara yang membalikkan wajah ke Vihara Mahabodhi India, arca Arya Tara yang membelah Sungai Nairanjana, dan sebagainya. Terdapat pula kisah pencapaian delapan siddhi melalui praktik pemujaan terhadap Arya Tara. Dikisahkan pada masa sebelum Guru Agung India, Arya Mahatma Nagarjuna hidup, terdapat 500.000 orang yang mencapai siddhi melalui praktik mantram Tara, dan pada masa Arya Mahatma Nagarjuna hidup juga terdapat 500.000 orang lagi yang berhasil mendapatkan pencapaian itu.

  5. Arya Tara Sang Pembebas dari Delapan Bahaya
  6. Suku kata TUTARE dalam mantram Tara menunjukkan bahwa Arya Tara membebaskan kita dari delapan bahaya luar maupun dalam. Kedelapan bahaya luar itu mengancam hidup atau milik kita sedangkan kedelapan bahaya dalam membahayakan kita secara spiritual dengan cara menyebabkan kita semakin jauh dari jalan menuju pencerahan. Setiap bahaya luar itu berpasangan dengan bahaya dalam: bahaya singa ~ kesombongan, bahaya gajah ~ ketidaktahuan, bahaya api ~ kemarahan, bahaya ular ~ kecemburuan, bahaya pencuri ~ pandangan salah, bahaya rantai penjara ~ kekikiran, bahaya banjir ~ kemelekatan dan bahaya setan ~ keragu-raguan.

    1. Bahaya Singa ~ Kesombongan
    2. Mengembara di gunung-gunung pandangan salah akan aku,

      Membubung tinggi dengan menganggap diri lebih unggul,

      Ia mencakar mahluk lain dengan jijik:

      Singa~kesombongan – mohon lindungi kami dari bahaya ini!

      tara1

      Arya Tara Menaklukkan Singa

      Sebagai praktisi spiritual, salah satu bahaya terbesar yang kita hadapi adalah kesombongan. Seperti halnya seekor singa berjaya di hutan-hutan gunung, kesombongan kita mengembara di sekitar pandangan-pandangan salah akan adanya “aku” yang merupakan akar dari penderitaan kita di dalam samsara. Kesombongan itulah yang menyebabkan kita meremehkan ataupun menghina orang lain, seperti halnya cakar seekor singa menyakiti mahluk hidup lain.

      Dengan pandangan salah itu, kita membandingkan diri kita dengan orang lain, kita merasa lebih unggul dari orang lain. Kesombongan itu menghalangi kita untuk mengenali keadaan yang sebenarnya karena kita merasa hidup kita begitu lancar, begitu sempurna. Sehingga kita pun tidak menyadari pentingnya mempraktikkan Dharma dan akibatnya kita tidak mengembangkan sifat-sifat baik yang baru sementara sifat-sifat baik yang sudah ada justru menjadi semakin berkurang.

      Obat penawar untuk menghalau kesombongan adalah menumbuhkan kebijaksanaan dengan merenungkan topik-topik yang sulit. Ketika kita menyadari betapa terbatasnya pemahaman kita sekarang, maka hal itu akan mengurangi kesombongan kita dan membuat kita menjadi lebih rendah hati. Selain itu kita juga dapat merenungkan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui, sekecil apapun kemampuan dan bakat yang kita miliki berasal dari kebaikan mahluk lain. Bersujud pada Sang Triratna juga membantu kita mengatasi kesombongan. Ketika sedang bernamaskara, kita merenungkan kualitas-kualitas baik dari Buddha, Dharma dan Sangha yang akan membangkitkan rasa hormat dan kagum dalam batin kita. Hal ini mengurangi segala rasa bangga yang mungkin kita miliki terhadap kemampuan-kemampuan kita sendiri dan menginspirasi kita untuk mengarahkan usaha kita dalam latihan spiritual sehingga kita dapat mempunyai kualitas-kualitas yang sama seperti Sang Triratna.

      Ketika memohon kepada Arya Tara untuk menyelamatkan kita dari bahaya singa~kesombongan, sesungguhnya kita sedang memanggil Arya Tara di dalam batin kita – yaitu benih-benih kebijaksanaan dan welas asih kita sendiri. Seiring dengan bertumbuhnya kualitas-kualitas ini dalam diri kita, mereka melindungi kita dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kesombongan tersebut pada diri kita sendiri maupun pada orang lain.

    3. Bahaya Gajah ~ Ketidaktahuan
    4. Tak terkalahkan oleh kait tajam ingatan dan kewaspadaan,

      Menjadi tumpul karena minuman kesenangan indera yang memabukkan,

      Ia memasuki jalan yang salah dan memamerkan gading-gadingnya yang membahayakan:

      Gajah~ketidaktahuan – mohon lindungi kami dari bahaya ini!

      tara2

      Arya Tara Menaklukkan Gajah

      Penuh kekuatan dan juga tidak terkendali, seekor gajah mabuk akan menakutkan semua yang ditemuinya sepanjang jalan. Demikian pula, emosi yang tidak terkendali, yang berasal dari ketidaktahuan, membuat kita terlibat dalam berbagai tindakan salah dalam kehidupan kita sehari-hari. Sekalipun kita sedang duduk bermeditasi, batin kita tidak bisa fokus dan berlarian dari satu objek ke objek lainnya.

      Ketika batin kita melekat pada kesenangan-kesenangan atas dasar ketidaktahuan, kita cenderung berusaha untuk mempertahankan kesenangan itu. Bahkan kita mungkin menghalalkan segala cara demi mempertahankan kesenangan tersebut, sehingga kita terjerumus dalam penderitaan dan kebingungan, semakin jauh dari pencerahan.

      Batin yang penuh ketidaktahuan tersebut harus dikalahkan dengan ingatan dan kewaspadaan agar batin itu tetap fokus pada hal-hal yang penting untuk diperhatikan. Misalnya, dalam latihan menjaga sila, dengan ingatan kita menyadari batasan-batasan dalam sila yang kita jalani dan dalam hal ini kewaspadaan akan memeriksa apakah kita hidup sesuai dengan batasan tersebut. Contoh lainnya dalam latihan meditasi, ingatan menjaga agar konsentrasi kita tetap fokus pada objek sedangkan kewaspadaan akan memeriksa apakah kita masih tetap fokus.

      Ketika memohon kepada Arya Tara untuk menyelamatkan kita dari bahaya gajah~ketidaktahuan, kita sedang memanggil kekuatan ingatan dan kewaspadaan kita sendiri. Seperti seorang penjinak gajah yang bijak yang mengetahui dengan ahli bagaimana menaklukkan seekor gajah liar dan mengarahkan kekuatan gajah itu untuk tujuan yang bermanfaat, demikianlah ingatan dan kewaspadaan mengarahkan konsentrasi kita pada hal-hal yang baik.

    5. Bahaya Api ~ Kemarahan
    6. Dihembus oleh angin perhatian yang salah,

      Berkobar kepulan asap tingkah laku keliru,

      Ia mempunyai kekuatan untuk menghanguskan seluruh hutan kebajikan:

      Api~kemarahan – mohon lindungi kami dari bahaya ini!

      tara3

      Arya Tara Menaklukkan Api

      Kemarahan diibaratkan seperti api karena kekuatannya yang dapat menghancurkan apa saja dengan begitu cepat, tanpa memilih-milih. Seperti api yang mengamuk membakar hutan, kemarahan disulut dari sebuah percikan, menyala semakin terbakar oleh angin perhatian salah yang membesar-besarkan keburukan orang lain.

      Akibat kemarahan itu, kita kehilangan kepercayaan yang telah lama dipupuk, kita kehilangan keharmonisan yang telah lama dibina. Dengan kebencian dan kegusaran tersebut kita menyakiti diri sendiri dan orang lain. Kemarahan menghabiskan kebajikan-kebajikan yang telah kita kumpulkan sejak waktu yang lama.

      Penawar untuk mengatasi kemarahan adalah dengan melatih kesabaran, yaitu kemampuan untuk menjaga batin tetap tenang meskipun menghadapi bahaya ataupun penderitaan. Kesabaran bukan berarti diam menyerah secara pasif atau mengampuni kejahatan begitu saja, akan tetapi lebih dari itu, kesabaran menghasilkan mental yang stabil mempertahankan welas asih kita kepada mahluk lain.

      Kita dapat memohon kepada Arya Tara untuk membantu kita mengembangkan kesabaran agar batin kita tetap tenang dan dapat mempertimbangkan berbagai macam tindakan dengan bijaksana, tanpa kekerasan ataupun kemarahan. Memohon agar Beliau memberikan kekuatan kesabaran sehingga kita mampu bertindak dengan penuh keyakinan dan ketegasan namun penuh kedamaian dan welas asih.

    7. Bahaya Ular ~ Kecemburuan
    8. Mengintai di kegelapan ketidaktahuan,

      Tidak sanggup menerima kekayaan dan kehebatan yang lain,

      Dengan segera ia mengeluarkan bisa-nya:

      Ular~kecemburuan – mohon lindungi kami dari bahaya ini

      tara4

      Arya Tara Menaklukkan Ular

      Kecemburuan berakar dari ketidaktahuan, hal itu membuat kita berpikir bahwa kita akan bahagia dengan cara menghancurkan kebahagiaan orang lain. Seperti halnya ular berbisa dapat meracuni tubuh kita yang sehat, demikianlah kecemburuan meracuni kebahagiaan kita maupun orang lain.

      Kecemburuan mengambil kedamaian batin kita, karena dikuasai kecemburuan kita berusaha merusak kebahagiaan ataupun kesuksesan orang lain. Meskipun kita berhasil melakukannya, kita juga tidak akan merasa benar-benar bahagia, justru hal itu melemahkan kita dan kita tetap terikat dalam penderitaan.

      Kecemburuan harus diatasi dengan membangkitkan sikap ikut bergembira atas kebahagiaan maupun kesuksesan atau keberuntungan orang lain. Bila kita mampu melatih sikap mental seperti itu, kita akan menciptakan potensi kebajikan yang besar sekali, karena seolah-olah kitalah yang telah melakukan hal-hal bermanfaat yang membawa pada kebahagiaan itu.

      Sebagaimana Arya Tara digambarkan sedang menaklukkan ular, kita dapat memohon kepada Arya Tara untuk membantu kita mengatasi kecemburuan dan mengembangkan sikap ikut bergembira atas semua kebahagian orang lain.

    9. Bahaya Pencuri-pencuri ~ Pandangan Salah
    10. Berkelana dalam rimba praktik tidak bermutu yang menakutkan

      Dan limbah tandus kekekalan dan nihilisme,

      Mereka merampok kota-kota dan tempat-tempat pertapaan yang bermanfaat dan penuh sukacita

      Pencuri-pencuri~pandangan salah – mohon lindungi kami dari bahaya ini!

      tara5

      Arya Tara Menaklukkan Pencuri

      Pandangan salah diibaratkan sebagai pencuri yang mengambil harta benda yang telah kita jaga baik-baik. Pandangan salah mencuri keyakinan benar yang telah kita lindungi yang merupakan dasar dari kekayaan spiritual kita.

      Bila kita mengikuti pandangan salah, kita terlibat dalam latihan-latihan spiritual yang mengaku-ngaku membawa kita pada pencerahan tetapi sesungguhnya tidak. Akhirnya kita akan terdampar di gurun spiritual. Kemiskinan spiritual jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan materi, karena ia tidak hanya mempengaruhi kebahagiaan dalam kehidupan ini saja tetapi kebahagiaan dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang. Kita mungkin terkejut menemukan betapa banyak pandangan salah yang kita pegang dan kegigihan kita untuk tetap mempertahankannya. Ketika seseorang menantang pandangan kita yang keliru, kita menjadi marah dan merasa diserang. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan spiritual kita.

      Untuk mengatasi pandangan salah ini kita harus melatih kebijaksanaan dan sebagaimana Arya Tara digambarkan sedang menaklukkan para pencuri, kita dapat memohon kepada Beliau untuk membebaskan kita dari pandangan-pandangan salah dan membimbing kita untuk mengembangkan kebijaksanaan.

    11. Bahaya Penjara ~ Kekikiran
    12. Mengikat kita dalam penjara yang tak tertahankan

      Yaitu keberadaan yang berulang-ulang tanpa kebebasan,

      Rantai itu mengikat kita dalam pelukan erat nafsu keinginan:

      Rantai~kekikiran – mohon lindungi kami dari bahaya ini!

      tara6

      Arya Tara Membebaskan dari Penjara

      Walaupun ketidaktahuan adalah akar dari samsara (siklus keberadaan), namun yang membuat kita tetap terikat dalam penjara siklus penderitaan dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya adalah nafsu keinginan. Kekikiran bersekutu dengan nafsu keinginan, yaitu batin yang melekat pada harta benda kita dan tidak tahan untuk kehilangan mereka.

      Mungkin kita merasa sebagai orang yang murah hati, tetapi ketika kita memeriksa sikap dan tingkah laku kita dengan lebih teliti, akan ada banyak ruang untuk meningkatkan diri kita menjadi lebih baik lagi. Mungkin di antara kita ada yang mempercayai bahwa dengan semakin banyak harta, hidup kita akan semakin bahagia. Padahal kenyataannya, kemelekatan kita pada harta benda itu mengikat kita dalam penjara ketidakpuasan. Kita terus-menerus menginginkan lebih banyak lagi dan lebih baik lagi, kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah kita miliki.

      Tidak melekat dan bermurah hati adalah obat penawar terhadap kekikiran. Dengan batin yang tidak melekat, kita tidak menganggap bahwa harta benda materi adalah sumber kebahagiaan yang dapat diandalkan atau sebagai simbol kesuksesan. Batin kita menjadi lebih seimbang dan kita menemukan kepuasan.

      Bila kita masih diliputi kekikiran, kita dapat memohon kepada Arya Tara agar kita mampu membebaskan diri dari pelukan nafsu keinginan yang begitu kuat dan mulai belajar untuk mengikisnya dengan berpuas diri dan bersyukur atas keadaan kita saat ini.

    13. Bahaya Banjir ~ Kemelekatan
    14. Menghanyutkan kita dalam arus deras samsara yang begitu sulit diseberangi

      Terkondisikan oleh dorongan angin karma,

      Kita terlempar dalam gelombang kelahiran, usia tua, sakit dan mati:

      Banjir~kemelekatan – mohon lindungi kami dari bahaya ini!

      tara7

      Arya Tara Menaklukkan Banjir

      Diibaratkan seperti banjir, kemelekatan telah menghanyutkan kita dalam lautan samsara. Tenggelam dalam banjir kemelekatan, kita tidak dapat menghirup udara segar kepuasan dan kedamaian. Kita mungkin ingin menepi ke daratan, tetapi tidak melihat adanya rakit kehidupan, kita terus-menerus terhanyut tanpa terkendali. Menyeberangi arus deras samsara bukanlah hal yang mudah. Kita membutuhkan pemandu untuk menemukan jalan melalui lautan kilesa yang gelap. Dharma adalah rakit kehidupan kita. Mari kita pastikan kita berpegang erat padanya dan tidak membiarkan rakit itu terapung menjauhi kita.

      Ketika batin kita melekat pada sesuatu, kita terobsesi oleh objek kemelekatan tersebut, kita khawatir tidak mendapatkannya dan begitu kita telah mendapatkannya kita semakin takut akan kehilangannya.

      Merenungkan ketidakkekalan adalah obat penawar terbaik terhadap kemelekatan. Melihat bahwa objek yang kita lekati itu berubah dari saat ke saat, kita mengetahui bahwa mereka tidak akan ada selamanya, suatu hari mereka akan hancur dan oleh karenanya mereka bukanlah sumber kebahagiaan yang dapat diandalkan.

      Obat penawar lainnya adalah dengan merenungkan kerugian-kerugian samsara. Jika seorang narapidana berpikir bahwa berada di penjara tidaklah terlalu buruk, maka ia tidak akan tertarik untuk membebaskan dirinya dari penjara. Sama halnya, sepanjang kita merasa bahwa samsara (kelahiran berulang kali dibawah pengaruh ketidaktahuan, kemelekatan, dan kebencian) adalah sesuatu yang nyaman, kita tidak akan mencari pembebasan.

      Karena itulah, Sang Buddha, dalam ajaran-Nya mengenai Empat Kebenaran Mulia, pertama-tama meminta kita merenungkan hakikat keberadaan kita yang tidak memuaskan penuh derita dan segala penyebabnya, sehingga kita akan mencari akhir dari derita itu dan jalan menuju keadaan penuh kedamaian. Kita lahir, tua, sakit dan mati tanpa bisa memilih. Kita berusaha keras untuk mendatangkan segala sesuatu yang menyenangkan tetapi tidak selalu berhasil. Terkadang kita berhasil, tetapi kemudian kita kecewa atau dihadang oleh lebih banyak masalah. Sedangkan kesulitan-kesulitan, yang sebisa mungkin kita hindari, datang bertubi-tubi menimpa kita. Mengenali bahwa situasi ini tidak menyenangkan, kita akan mencari pembebasan darinya dan akan ingin sekali mempraktikkan jalan menuju kebahagiaan sejati.

      Ketika kita memohon kepada Arya Tara untuk membebaskan kita dari bahaya kemelekatan, kita semakin menyadari akan ketidakkekalan, bahwa segalanya tidak ada yang abadi, sehingga kita semakin berpegang erat pada rakit Dharma dalam kehidupan kita.

    15. Bahaya Setan ~ Keragu-raguan

    Mengembara dalam ruang kebingungan yang paling gelap

    Menyiksa mereka yang berjuang untuk tujuan tertinggi

    Dengan kejam ia mematikan jalan menuju pembebasan

    Setan keragu-raguan- mohon lindungi kami dari bahaya ini!

    tara8

    Arya Tara Menaklukkan Setan

    Keragu-raguan ada berbagai jenis, tidak semuanya bersifat menghalangi. Keraguan yang penuh keingin-tahuan dengan batin terbuka mendorong kita untuk mempelajari, memeriksa dan memperjelas arti dari suatu ajaran. Hal itu mendukung kita dalam Jalan. Tetapi, ketika keraguan kita mengembara dalam kebingungan dan bersandar pada pandangan yang keliru, batin kita berputar-putar dalam lingkaran yang dibuatnya sendiri dan secara spiritual kita tidak mengalami kemajuan ataupun kemunduran, kita berhenti. Keraguan yang keliru ini menghabiskan waktu dan kesempatan kita untuk mencapai pembebasan. Diibaratkan seperti setan yang menghancurkan kehidupan, menghilangkan potensi seseorang yang sedang berkembang.

    Batin yang berputar-putar dalam keraguan tidak dapat menuju pada Jalan pembebasan. Hal itu seperti menjahit dengan dua mata jarum, kita tidak dapat bergerak maju. Jika kita mulai melakukan suatu latihan tertentu, di pertengahan kita meragukan kemanjurannya dan berhenti melakukannya. Ketika kita mendengarkan ajaran, kita meragukan keaslian ajaran itu dan berhenti mendengarkan. Kita meragukan kemampuan kita untuk praktik, kita meraguan kemahiran guru kita untuk membimbing kita, kita meragukan Jalan yang dipraktikkan, kita meragukan keberadaan pencerahan. Tidak mendapat jalan keluar apapun akhirnya kita tidak bertambah maju sepanjang Jalan dan batin kita tetap tersiksa. Tujuan tertinggi kita, pembebasan dan Kebuddhaan telah ditaklukkan oleh setan keragu-raguan ini.

    Untuk menangkal keragu-raguan, pertama-tama kita harus menghentikan pikiran-pikiran kusut yang bertentangan dan menenangkan batin kita. Meditasi pernapasan adalah cara yang bagus untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak berkaitan satu sama lain dan memfokuskan batin kita. Batin yang mantap dapat membedakan hal-hal yang penting yang perlu dipertimbangkan dari pikiran-pikiran yang penuh keraguan dan tidak masuk akal.

    Selanjutnya kita harus mempelajari ajaran Buddha dan belajar untuk berpikir secara logis dan jelas sehingga kita dapat menyelidiki dan mencapai kesimpulan yang tepat. Kita dapat memohon kepada Arya Tara agar membantu kita sehingga kita dapat memperjelas apa yang telah kita yakini dan mempraktikkannya dengan benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>