Tentang Arya Tara

Siapakah Arya Tara?

Nama Tara berasal dari akar kata bahasa Sanskerta “Tar” yang berarti menyeberangkan. Dengan kata lain, Dewi Tara membantu menyeberangkan semua makhluk keluar dari lautan penderitaan (samsara). Dalam bahasa Tibet, Dewi Tara disebut Jetsun Drolma yaitu “Ibu Sang Pembebas” atau Pagma Drolma yaitu “Sang Pembebas Nan Mulia”. Beliau melambangkan keberhasilan dan pencapaian. Dalam bahasa Mongolia, Dewi Tara disebut Dara Eke yang berarti Ibu Tara, yaitu Ibu dari semua Buddha dan Bodhisatwa. Dalam bahasa Jepang dikenal sebagai Tarani Bosatsu dan dalam Buddhisme China sebagai Tuo Luo.

[Baca Selengkapnya]

21 Tara

Secara umum dikenal adanya 21 perwujudan Arya Tara. Perwujudan yang paling banyak dikenal adalah Tara Hijau yang merupakan penolong yang tangkas bagi mereka yang memanjatkan permohonan kepadanya dan Tara Putih yang berkaitan dengan kedamaian dan keharmonisan, khususnya welas asih agung, umur panjang, penyembuhan dan ketentraman. Beliau juga dikenal sebagai Roda Pengabul Keinginan (S: Cintachakra).

[Baca Selengkapnya]

Kisah-Kisah Arya Tara

Banyak sekali kisah tentang penyelamatan yang dilakukan oleh Arya Tara baik kepada para praktisi agung maupun kepada orang biasa. Selain itu, banyak juga kisah gaib yang berkaitan dengan arca Beliau misalnya arca Arya Tara tanpa perhiasan yang berkaitan dengan Guru Agung Chandragomin, arca Arya Tara yang membalikkan wajah ke Vihara Mahabodhi India, arca Arya Tara yang membelah Sungai Nairanjana, dan sebagainya.

Arya Tara juga dapat membebaskan kita dari delapan bahaya luar maupun dalam. Kedelapan bahaya luar itu mengancam hidup atau milik kita sedangkan kedelapan bahaya dalam membahayakan kita secara spiritual dengan cara menyebabkan kita semakin jauh dari jalan menuju pencerahan.

[Baca Selengkapnya]

Tara di Nusantara

img01

Candi Kalasan

Candi Kalasan yang terletak di desa Kalibening, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta diperkirakan dibangun pada tahun 778 Masehi dan oleh karena itu merupakan candi Buddhis tertua berdasarkan data arkeologi yang ditemukan hingga saat ini. Berdasarkan prasasti yang ditemukan di lokasi, candi ini dibangun oleh Raja Rakai Panangkaran dari Wangsa Sanjaya berdasarkan anjuran dari Guru Raja Syailendra sebagai mandala bagi Arya Tara dan sekaligus sebagai objek ibadah dan perlindungan bagi kerajaan, khususnya dari ancaman bencana alam, makhluk-makhluk jahat, binatang-binatang buas maupun penyakit epidemis.

Candi Jajaghu/ Candi Jago

Candi Jajaghu, atau yang kini lebih popular dikenal dengan nama Candi Jago, terletak di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur merupakan candi Buddhis yang dibangun oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari (abad ke-13) sebagai pelimpahan kebajikan atas meninggalnya ayah Beliau, Raja Jaya Wisnuwardhana. Raja Kertanegara adalah seorang praktisi Tantra yang sangat unggul dan pada masa kekuasaan Beliau lah, praktik Tantra di Indonesia mengalami puncak keemasan. Di Candi Jago, dapat dijumpai arca Ksamatara dan Brkutitara, hampir seukuran orang dewasa, yang merupakan salah satu dari perwujudan Arya Tara.
img01
img01

Dewi Sri

Di beberapa wilayah Sunda, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur dan bahkan Bali, sejak jaman dahulu yang tidak dapat ditelusuri asal mulanya hingga saat ini masih berlangsung pemujaan kepada Dewi Sri yang dikaitkan dengan tanaman padi. Berdasarkan studi para cendekiawan, dipercaya bahwa Dewi Sri atau Dewi Padi ini adalah perwujudan dari Arya Tara sebagai Vasundhari / Vasudharini, pemberi kemakmuran, dengan tubuh berwarna kuning dan memegang setangkai padi menguning.

Perjalanan YM Atisha ke Sriwijaya

Guru agung India, Atisha Dipamkara Srijnana (982-1055) adalah orang yang berjasa besar dalam memurnikan ajaran Buddhisme di Tibet yang pada abad ke-10 sudah sangat merosot. Beliau jugalah yang memulai suatu tradisi ajaran dan latihan spiritual Buddhis yang bertahap atau dalam bahasa Tibet adalah Lamrim (Jalan Bertahap Menuju Pencerahan), yang mana semua ajaran Buddha dipadukan dan disusun secara sistematis sehingga mudah bagi praktisi mana pun untuk mengetahui maksud ajaran Buddha dan mempraktikannya.

Adalah berdasarkan nasihat dari Arya Tara, Beliau pernah belajar selama 12 tahun di bumi Sriwijaya yaitu Palembang, Sumatera di bawah kaki Guru utamanya yang sangat Beliau kasihi yaitu Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, belajar dan memeditasikan cinta kasih (metta) dan welas kasih agung (maha karuna) dalam upaya membangkitkan batin pencerahan (bodhicitta).
img01

Partisipasi Anda

client


Panitia Pembangunan Biara Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling mengajak segenap khalayak masyarakat Indonesia untuk kembali mengingat kepada Arya Tara dan memohon kepada Beliau untuk dapat selalu menjaga bumi Nusantara kita yang tercinta ini, melindungi kita dari marabahaya dan bencana serta membantu menjaga keberlangsungan penyebaran agama Buddha di Indonesia melalui pembangunan Biara Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling dan menganugerahkan umur yang panjang kepada YM Dagpo Rinpoche.

Dengan berdonasi sebesar Rp 500,000.- Anda dapat membawa Arya Tara pulang ke rumah Anda masing-masing dalam wujud patung tsa-tsa dari gypsum putih yang cantik dan foto, beserta petunjuk untuk berdoa, memohon dan memeditasikan Arya Tara. Anda juga akan memperoleh sebuah booklet yang berisi banyak cerita mengenai kesigapan Arya Tara dalam menolong para makhluk.

Donasi dapat ditujukan ke rekening sebagai berikut:

BCA No. 517 - 088 - 2999 atas nama Yayasan Wilwatikta Sriphala Nusantara

Konfirmasi melalui SMS dengan format:

ARYA TARA DATANGLAH! SAYA MEMOHON / NAMA / JUMLAH TRANSFER / TANGGAL TRANSFER / ASAL BANK TRANSFER

Contoh:

ARYA TARA DATANGLAH! SAYA MEMOHON / RAINALDO / 500000 / 01-03-2014 / MANDIRI an RAINALDO

SMS dikirimkan ke:

Ida Fitri (0811 1984 588) atau Johnson (0819 0505 4327)

Biara Indonesia Gaden Syeydrup Nampar Gyelwei Ling

client

Memaknai Jejak-Jejak Dharma di Nusantara

Lamrim telah dipelajari di berbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia. Dari sekian banyak orang Indonesia yang belajar Lamrim, mereka yang mempelajari Lamrim dan juga berupaya menjaga tradisi dari biara aslinya adalah sekelompok biarawan yang tergabung dalam Sangha Kadam Choeling Indonesia (KCI) yang dikepalai oleh Bhiksu Bhadra Ruci. Guru utama dari Bhiksu Bhadra Ruci adalah Guru Dagpo Rinpoche Jhampel Jampa Gyatso yang berasal dari Dagpo Shedrup Ling Monastery. Hal ini berarti, Lamrim yang dipelajari di Indonesia, khususnya KCI adalah Lamrim dengan tradisi asli yang berasal dari Biara Lamrim. Dengan demikian tergambarlah satu garis panjang yang menjelaskan silsilah ajaran otentik yang tak terputus, dari Buddha Sakyamuni hingga Guru Dagpo Rinpoche dan akhirnya sampai di Sangha KCI. Satu garis Silsilah Emas yang menjadi warisan tak ternilai yang patut disyukuri dan dilestarikan. Yang menambah suka cita, Guru Dagpo Rinpoche juga diyakini sebagai kelahiran kembali Guru Swarnadwipa Dharmakirti, sebagaimana yang dikukuhkan oleh HH Dalai Lama ke-13.

Warisan sejarah ini menjadi bekal berharga untuk melangkah ke masa depan. Oleh karena itu, KCI mengambil prakarsa untuk melestarikannya dengan membangun sebuah Biara Buddha pertama yang mempelajari Sutra dan Tantrayana di Asia Tenggara. Biara (monastery) ini akan menjadi institusi yang menaungi Sangha KCI yang anggotanya terus bertambah dan akan menjadi tempat di mana kemurnian silsilah ajaran otentik dapat terjaga dan lestari, agar dapat diteruskan ke generasi selanjutnya.

[Baca Selengkapnya]

Tentang Kami

Kadam Choeling Indonesia

Berawal dari sebuah kelompok diskusi Dharma, mereka yang mencari dan menemukan akhirnya tumbuh menjadi komunitas yang gigih dan serius mempelajari Buddha Dharma. Di bawah bimbingan YM Bhiksu Bhadra Ruci, komunitas ini kemudian dianugerahi nama Kadam Choeling oleh Yang Mulia Lama Dagpo Rinpoche Jhampel Jampha Gyatso atau dikenal dengan sebutan Dagpo Rinpoche, pada tanggal 5 Februari 2001, yang menandai berdirinya Kadam Choeling Indonesia (KCI). Dagpo Rinpoche dikenali oleh His Holiness Dalai Lama ke-13 sebagai Tulku dan merupakan guru spiritual utama KCI.

[Baca Selengkapnya]

Sangha Kadam Choeling Indonesia

Sangha Kadam Choeling lahir pada tanggal 1 Maret 2010. Terdiri dari 6 bhiksu, 8 sramanera dan 3 sramaneri. Mereka adalah para sarjana yang kompeten dan sukses sebagai umat awam, namun memilih untuk menjalani dunia pelepasan untuk mencari makna kebahagiaan sejati. Di dalam persaudaraan Sangha mereka menemukan wadah yang menciptakan kondisi untuk membuat mereka mampu mengembangkan kehidupan spiritual secara kondusif.

[Baca Selengkapnya]